Jumat, 21 Maret 2014

Piwulang Kautaman

Bagian IV ini pada halaman 59. Piwulang berarti nasehat, Kautaman berarti keutamaan. Berbeda dengan Sesanti, sesanti lebih kepada pengobar semangat. Sedangkan piwulang terasa lebih tenang dan refleksi spiritual karena mengandung ajaran budi pekerti. Piwulang Kautaman dalam budaya Jawa adalah memberi pembelajaran untuk mempertajam kepekaan agar bisa memilih yang baik dan benar.

Berikut beberapa contoh Piwulang Kautaman dalam budaya Jawa,

Pasemon Dan Tradisi

Pasemon adalah sindiran halus yang di tunjukan untuk penguasa atau pejabat. Sistem Pranata sosial Jawa yang penuh hirarki, melahirkan konsekwensi kelas kata dalam bahasa. Demikian pula dalam menyampaikan pendapat dan mengkritik tentu tidak bisa sembarangan.
Satu contoh ketika orang Jawa hendak menyampaikan permohonan kepada raja dilakukan melalui “PEPE” atau berjemur di alun-alun hingga sang penguasa berkenan menerimanya di bangsal kerajaan.

Bahasa Pasemon sangat Indah dan memerlukan pencernaan lebih dari sekedar bahasa tutur semata.

Berikut beberapa Pasemon yang tetulis pada bab Pasemon dan Tradisi.

Semiotika Jawa Karya M.Hariwijaya

Judul ; Semiotika Jawa - Kajian Makna Falsafah Tradisi-

Penulis ; M. Hariwijaya

Penerbit ;  Paradigma Indonesia

Cetakan Pertama Februari 2013
Copyright @M.Hariwijaya

Layout ; Hagas

Design sampul ; Chandra

Selasa, 18 Maret 2014

Babad Seni#3 - IPG 2014 (Dalam Opiniku)

"Babad Seni #3 - IPG 2014"
Sebongkah Manifestasi Perseteruan Identitas Sentralistik, demikian sang kurator (Netok Sawiji) menjabarkan tema Babad Seni #3 - Pameran Seni Rupa Gunungkidul 2014 - ini. Tema “Adoh Ratu Cerak Watu” yang di jabarkan dengan kalimat keren tetapi asing bagi sebagian awam. Namun mungkin demikianlah bahasa yang layak di gunakan untuk menjabarkan tema Pameran karya para perupa Gunungkidul yang tergabung dalam wadah Ikatan Perupa Gunungkidul (IPG). 

Kata-kata Adoh Ratu Cerak Watu sendiri sudah sedemikian akrab bagi sebagian besar warga Gunungkidul. Adoh Ratu Cerak Watu sendiri sudah mampu di jabarkan secara harafiah. Secara geografis dan politik, jarak dan kondisi alam yang harus di tempuh (geografy) untuk menjerumuskan diri pada birokrasi-birokrasi (politik) setingkat propinsi memang sangat membutuhkan waktu yang tidak pendek. Namun pada era sekarang faktor ini bisa di minimalisir dengan teknologi. Dengan begitu jarak yang ada sebenarnya sudah tidak menjadi semacam keluh kesah untuk menemui “Sang Ratu” lagi. Karena pada dasarnya “Adoh Ratu” dirasakan tidak sendirian. 

Kamis, 13 Maret 2014

Mencari Jampi (untuk obat) Puyeng

"Jhony Sang Empunya Omah Jowo"
Begitu aku parkirkan motor beat warna pink milik istriku, yang ku pakai malam itu 7 Maret 2014. (Sebanarnya trailku sendiri sudah ku siapkan, namun suara knalpot untuk malam serasa kurang nyaman). Aku langsung menengok jam di hp yang menunjukan pukul 18.55. Ternyata aku masih menjadi manusia yang belum berubah sejak masa remaja, pikirku. Mencoba On Time, tidak in time apa lagi between time. Kecuali ada yang sangat2 tidak tertolak untuk jadi alasan. Itupun pasti akan kucoba jelaskan sebelumnya. Sebisa mungkin. Alasan jam karet biarlah menjadi alasan liyan tapi tidak untuk saya. Bahkan saya lebih memilih untuk tidak memenuhi janji jika ternyata saya tak mampu tepat waktu. Biarlah prinsip lebih baik terlambat itu menjadi milik liyan. Ya atau Tidak, itu saja.

Senin, 10 Maret 2014

Rukun Gunungkidul, Pemilu 2014

"Jaga Kerukunan Umat"
Banner atau baliho yang terpampang mencolok di depan alun-alun Pemkab Gunungkidul yang berada di pojok sebelah barat daya adalah pesan FKUB untuk semua warga. Tanpa terkecuali! Pesan untuk menjaga kerukunan antar umat menjadi sangat penting untuk di sampaikan, mengingat pesta demokrasi yang sangat rentan terhadap provokasi masa. Kerusuhan bisa sangat mungkin terjadi dengan menghadirkan isu berbau agama yang ada, baik melalui institusi atau kelompok maupun secara individu. Propaganda negatif untuk meraih masa militan bagi masing-masing partai bisa saja di “goreng” dengan minyak agama. Menjaga kerukunan antar umat beragama ini jelas sangat penting untuk dengungkan dan semakin gencar di kampanyekan. Mengingat kemajemukan masyarakat Gunungkidul yang ada sampai saat ini. 

Selasa, 18 Februari 2014

Aku Abu Gunungkidul

"Bundaran Siyono 06.05"
Malam itu Kamis, 13 Februari 2014, dalam suasana hening tiba-tiba terdengar gemuruh. Sontak hening kami berubah riuh. Lindu! Itulah yang terbersit seketika. Beberapa detik tak terdengar lagi dan selanjutnya tanpa henti. Di luar rumah semua mata menghadap ke arah timur, kearah sumber suara ledakan demi ledakan bersahutan. Kelud “Njeblug”!!!
Tak ada yang bisa kami pandang selain gelap. Walau beberapa warga bersaksi melihat pendar kemerahan di atas langit timur jauh. 

Kami hanya diam menikmati, sambil kadang berceloteh tentang imajinasi kami atas ledakan demi ledakan yang tak kunjung usai kami dengar.